ISLAM di PERANCIS

ISLAM di PERANCIS

Ade Fitriani

0906114

Tidak mudah memang hidup di lingkungan minoritas, apalagi seorang Muslim yang tinggal di negara yang menganut faham sekularisme, dan terlebih lagi setelah islam diidentikkan dengan terorisme, membutuhkan perjuangan ekstra untuk tetap berpegang teguh mempertahankan keimanan seseorang, dan kebanyakan muslim Perancis adalah mualaf yang baru mengenal islam.

Untuk mencari makanan dan minuman yang halal saja harus mencari informasi dari berbagai sumber yang harus terpercaya, agar tidak memakan makanan yang melanggar aturan yang telah ditetapkan dalam kitab suci Al-Qur’an, tata cara berpakainpun harus diatur sedemikian mungkin agar tidak di curigai masyarakat sekitar, ditambah minimnya sarana keagamaan di negeri yang tidak berdasarkan keagamaan.

Banyak sekali halangan dan rintangan yang harus di hadapi oleh warga muslim Perancis, masih ada sedikit diskriminasi yang masih menonjol dalam kehidupan sehari-hari mereka, walaupun begitu tak sedikit warga perancis non-muslim yang menghargai tetangga mereka yang notabennya adalah seorang muslim.

Muslim yang Patriotik

Menurut Jean-Pierre Filiu (2009:1) Paris, dengan jumlah pendududuk muslimnya sekitar lima juta orang, kini adalah negara muslim terbesar di Eropa. Sebagian besar muslim ini berkebangsaan Perancis, hasil jajak pendapat menegaskan bahwa muslim Perancis mendukung nilai-nilai pranata-pranata negara mereka. Muslim Perancis tampak lebih konservatif dibanding warga Perancis yang lain, tetapi mereka lebih liberal di banding Muslim di negara-negara Eropa yang lain.

Sungguh menakjubkan di negara yang penduduk mayoritasnya adalah non-muslim, akan tetapi dapat menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga negara muslim Perancis. Bagaikan lilin dalam kegelapan, mereka mampu menjadi warga negara Perancis yang mampu bertahan dalam kalangan yang bukan mayoritas, sikap patriotik mereka yang sangat mencintai tanah kelahirannya memang patut ditiru oleh kita generasi penerus bangsa Indonesia. Muslim perancispun mendukung segala bentuk kebijakan-kebijakan yang di berlakukan oleh pemerintan Perancis asal tidak mengganggu dan mengancam muslim yang berada di Perancis, merekapun patut di banggakan karena berani selangkah lebih maju untuk membangun tanah kelahirannya tersebut, bukan sebaliknya yang ingin memecah belah wilayah Perancis untuk mendirikan wilayah tersendiri yang diperuntukkan muslim Perancis, mereka lebih menyukai hidup berdampingan dengan warga Perancis non-muslim, tanpa disadari merekapun menaburkan nilai-nilai keislaman.

Simbol Keagamaan yang Dilarang

Menurut  Fahmi AP Pane (2004:1), umat Islam segera dizalimi untuk kali kesekian oleh negara-negara Barat sekuler. Mulai 3 Februari 2004 parlemen Perancis membahas usulan pemerintahan Presiden Jacques Chirac untuk melarang pemakaian jilbab, kerudung dan hijab, mungkin juga jenggot, di sekolah dan instansi negeri serta tempat-tempat umum.

kerudung dan jenggot dianggap simbol agama (symbole religieux), bisa menimbulkan aksi kekerasan, membahayakan kehidupan rakyat dan negara yang berdasar sekulerisme.

Menurut Rosita Sihombing (2008:104), para siswa, tenaga pengajar, pegawai di sekolah negri, sampai pegawai di lembaga milik pemerintah dilarang mengenakan jilbab, salib agama Kristen, topi yarmulke agama Yahudi.

Setelah kejadian runtuhnya gedung pencakar langit di Amerika, muslim yang tinggal di negara baratpun harus hidup dengan aturan-aturan yang berlawanan dengan tuntutan agama, ini membuat ruang gerak bagi mereka sedikit terkekang oleh aturan tersebut, disini diskriminasi sangat terasa bagi umat muslim karena memiki tata cara berpakaian yang lebih menonjol di banding agama-agama lain, tanpa pantang menyerah mereka bertahan menghapi aturan-aturan yang mengekang dan terus berusaha untuk memperlihatkan bahwasannya islam itu tidaklah identik dengan terorisme akan tetapi identik dengan agama yang cinta damai. Tapi apa boleh dikata kalau sudah menjadi hukum suatu negara mau tidak mau harus dituruti, negara barat memang tegas dalam urusan hukum, dan sanksinya-pun tidak main-main, bukan hanya simbol-simbol umat Islam saja, akan tetapi agama lainpun termasuk dalam aturan tersebut. Tetapi bukan hal aneh lagi jikalau sekarang banyak penduduk Perancis yang mengenakan jilbab.

Sekularisme yang Menguntungkan

Menurut Soheib Bencheikh (2004:1), sekularisme tidak berarti laknat bagi agama-agama. Dalam hal-hal tertentu, sekularisme justru menjadi penyelamat bagi agama yang dianut golongan minoritas. Berkat sekularisme, Islam dan umat Islam di Perancis justru mendapat oksigen untuk bernafas lega dan berkembang secara lebih sehat. Karena prinsip sekularisme yang menjungjung tinggi netralitas dalam pengelolaan sosial-politik kenegaraan, agama dan umat dari agama manapun diperkenankan mengekspresikan keberagamaan mereka secara wajar. Dengan begitu, identitas keberagamaan justru mendapatkan tempat yang cukup layak dan mereka tidak merasa terancam.

Perancis yang sangat menjungjung tinggi hak asasi manusia (HAM) belakangan ini memang sepantasnya memberikan kebebasan  kepada setiap warga negaranya untuk memeluk agama apapun yang mereka inginkan, kebebasan untuk bertindak dan mengekspresikan apa yang mereka inginkan,  juga dapat menunaikan  ibadah di manapun dan kapanpun tanpa terkecuali bagi semua agama, ini akan membuktikan kepada seluruh dunia bahwasannya Perancis adalah negara yang sekuler tanpa mementingkan kepentingan satu golongan saja melainkan mementingkan semua golongan walau masih ada sedikit diskriminasi agama di Perancis, toh masalah ini bukanlah hal yang mengancam, dan semakin pesat perkembangan zaman juga akan membuka pemikiran mereka untuk lebih menghargai satu sama lain, dan secara berangsur-angsur diskriminasi agama ini akan segera terlupakan dan tidak lagi menjadi perdebatan dan perselisihan.

Pendidikan Agama yang Minim

Menurut Rosita Sihombing (2008:104), laik kurang lebih artinya negara yang pemerintahannya tidak berdasarkan sistem keagamaan, sekolah-sekolah negeri tidak diperkenankan memberikan mata pelajaran agama kepada siswanya. Berbeda halnya dengan negara tercinta kita, sampai tingkat perguruan tinggipun mata pelajaran keagamaan masih disuguhkan dan menjadi mata pelajaran yang sangat dibutuhkan peserta didik. Di Perancis informasi tentang keagamaan sangatlah minim sekali, ini menyebabkan banyaknnya warga perancis yang tidak meyakini adanya tuhan, karena sejak kecil mereka tidak mengenal tuhan sehingga tidak adanya norma agama yang berlaku di sana, dan menuhankan ilmu pengetahuan. Peran keluaraga disini sangat di perlukan untuk mengajarkan hal yang berkaitan dengan agama yang mereka anut, sehingga anak-anak tidak buta akan Tuhan dan agama. Akhir-akhir ini muncul video-video anaimasi di internet yang membuktikan bahwa muslim Perancis mulai mengajarkan metode yang menarik untuk menyampaikan ilmu agama kepada anak-anak, sehingga anak-anak dapat memetik pelajaran agama, selain itu juga terhibur dengan animasi 3D yang mereka tampilkan, disini diperlukan sekali campur tangan orang tua untuk memberi hiburan yang mendidik dan dapat memupuk kecintaan terhadap Tuhan dan betapa pentingnya beragama.

Kuliner Halal

Menurut Rosita Sihombing (2008:115), banyak sekali makanan atau kudapan yang berbahan alkohol dan mengandung daging babi. Apalagi Perancis adalah produsen anggur terbesar di dunia dan penghasil ternak babi terbesar. Tidak saja dalam kue dan minuman, menu makanan sehari-haripun kerap dibubuhi alkohol dan mengandung daging babi.

Susah memang untuk mencari makanan halal dan enak di Perancis, untuk memastikan sesuatu dapat dimakan atau tidak, muslim di Perancis harus mempunyai akses internet yang melangsir suatu zat atau makanan yang halal atau tidak, ini tentu saja memakan waktu dan kerja keras untuk tetap memakan makanan yang halal, tapi seiring dengan pesatnya pertumbuhan umat Muslim di Perancis maka ada toko atau supermarket yang menjual bahan makanan, makanan siap saji, daging beku, dan minuman yang halal bagi Umat Muslim, ada juga makanan khas Cina yang pemiliknya bukan orang Muslim-pun mereka menyediakan makanan yang halal, memang keberadaannya masih sangat jarang dan susah untuk di temukan, apalagi kalau terkadang harganya yang lumayan mahal, itupun harus mencari tau dengan bertanya kepada sang pemilik atau sang koki di dapur. Berbeda halnya dengan kita yang mendapat ketengan hati untuk memakan makanan di mana saja dan kapan saja yang karenakan penjualnya adalah seorang muslim. Sungguh melegakan setelah sekian lama bergelut mencari makanan halal, baru-baru ini terdengar kabar bahwasannya produk halal sudah mendapat tempat di hati konsumen, sehingga muncul pemberitaan makanan halal melalui media elektronik.

Nama Arab

Menurut Rosita Sihombing (2008:131), ketika rasisme terhadap Italia dan Afrika mulai tidak kentara pada era 80-an, masyarakat keturunan Arab adalah korban diskriminasi selanjutnya, jika melamar pekerjaan kemungkinan dipanggil untuk wawancara lima kali lebih kecil dibandingkan orang Perancis asli.

Tidak adil memang rasanya, hanya karena sebuah nama seseorang tidak diperlakukan dengan adil dan tidak seperti seharusnya, akan tetapi lambat laun mungkin akan tidak adanya lagi diskriminasi yang hanya di karenakan sebuah nama yang panjangnya beberapa centimeter saja, dapat menentukan nasib seseorang selanjutnya, semakin terbukanya fikiran mereka tentang islam yang penuh dengan kedamaian, maka saya yakin mereka semakin menghargai umat muslim. walau dewasa ini pendiskriminasian tehadap umat Muslim memang gencar di perdebatkan di negara barat, dan mungkin dimasa yang akan datang tidak akan ada diskriminasi agama, etnis, ras, golongan, atau apapun di negri yang menjungjung tinggi hak asasi manusia ini.

Perjuangan  untuk Beribadah

Menurut Rosita Sihombing (2008:139), sebagaimana di negara sub tropis lainnya, berpuasa di Perancis membutuhkan perjuangan yang lebih. Selain kultur budaya dan agama, faktor alam juga mempertebal perbedaannya. Jika bulan puasa jatuh pada musim dingin seperti Desember, Januari, atau Februari, warga Muslim di Perancis akan merasa beruntung karena puasa rata-rata 10 sampai 11 jam saja. Sebaliknya di musim semi dan panas, warga Muslim di Perancis  harus bersiap-siap menyimpan tenaga ekstra, karena puasa pada musim ini bisa sampai 19 jam.

Sungguh luar biasa jika harus berpuasa sampai 19 jam, untuk ukuran orang Indonesia menahan lapar dan haus sampai 19 jam itu sungguh berat rasanya, karena di Indonesia puasa hanya berkisar antara 14 jam saja, dan pola makan orang Indonesia yang memang kurang sadar gizi di banding orang-orang di Perancis.

Menurut Rosita Sihombing (2008:143), menjelang hari lebrab di Paris semuanya nyaris tidak ada yang istimewa, tidak ada tradisi membut kue, membeli ketupat, atau mendengarkan khidmat suara takbir di malm takbiran. Dan sungguh tidak adil jika pada liburan musim panas banyak orang yang mengambil cuti, tetapi untuk shalat Ied yang hanya setahun sekali malah tidak di pedulikan.

Rasanya tidak adil memang, mengapa hari raya umat Islam tidak di liburkan, atau di jadikan hari libur nasinoal layaknya di Indonesia, tetapi untuk agama lain ada beberapa peringatan keagamaan yang dijadikan hari libur nasional di Perancis.

Menurut Rosita Sihombing (2008:155), di negri Napoléon muslimah Peranci tidak bisa mengenakan mukenah, kalaupun ada tetapi sangat jarang. Begitu juga ketika haari Jum’at tidak ada pria berkopiah hitam dan mengenakan sarung secra massal menuju tempat ibadah.

Memang sungguh berbeda jauh dengan tanah air tecinta Indonesia, dapat dengan mudah menemukan tempat ibadah dimana saja, dan tidak susah payah mendapatkan mukenah, juga tidak merasa malu untuk mengenakan kopiah hitam dan sarung untuk pergi shalat, sudah semestinya memang kita bersyukur dapat menjadi warga negara Indonesia.

REFERENSI

Sihombing, Rosita. 2008. Paris Lumieère de l’Amour, Bandung: Lingkar Pena.

Pierre Filiu, Jean. 2009 “Seperti orang Perancis lain, Muslim Perancis pun patriotik” http://www.commongroundnews.org/article.php?id=25722&lan=ba&sid=1&sp=0 [28 oktober 2009]

Bencheikh, Soheib. 2004 “Bicara Prospek Kehidupan Islam” http://islamlib.com/id/komentar/bicara-prospek-kehidupan-islam-di-prancis/ [28 oktober 2009]

Ap Pane, Fahmi. 2004 “Jilbab dan Kezaliman Sekularisme” http://swaramuslim.net/more.php?id=1418_0_1_0_M [28 oktober 2009]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: