Penyebaran Imigran di Perancis

Oleh : Lina Apriyani

Nim : 0900452 Pendidikan Bahasa Perancis

Di Perancis terdapat kurang lebih 60 juta penduduk. Sebagian dari penduduk Perancis adalah imigran dari Afrika, Asia , dan Eropa lainnya. Perancis terkenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah imigran dari berbagai negara francophone. Negara yang termasuk dalam negara francophone adalah negara bekas jajahan negara Perancis. Dulu Perancis negara yang banyak membutuhkan warga negara, karena pada masa itu terjadi kudeta terbesar di sejarah kenegaraan Perancis. Selain banyak negara jajahannya yang ingin merdeka, banyak warga negara Perancis menjadi korban perang besar-besaran saat melawan Pemerintahan yang di anggap tidak memihak pada rakyatnya. Setelah jatuhnya pemerintahan monarki absolute yang dipimpin oleh Louis XVI, Perancis sempat mengalami kekosongan pemerintahan. Oleh sebab itu, sisa dari pemerintahan merundingkan untuk dibuat pemerintahan yang baru yang dapat membantu kembali Perancis pada masa jayanya.

PERMASALAH YANG MUNCUL SETELAH ADANYA IMIGRAN LUAR

Berbagai pro-kontra terjadi selama  terjadinya perpindahan imigran luar. Pada masa itu banyak muncul penolakan dari komunitas lokal terhadap kedatangan para imigran, karena persoalan eksploitasi sumber daya alam, kekerasan fisik dan bentuk-bentuk ketidakadilan lainnya. Sehingga munculah perdebatan-perdebatan yang bersifat diskriminatif dan rasis yang menjadi suatu wacana besar. Wacana-wacana rasis ini menjadi satu aspek yang banyak diteliti oleh ahli-ahli wacana seperti Van Dijk (1988) atau Fairclough (1992; 1995a; 1995b). Dalam konteks sosial,kultural dan politik Perancis, discourse rasisme masih sering muncul dalam wacana-wacana aktual. Salah satu Partai Politik, yakni National Front yang merupakan partai yang radikal dalam persoalan penerimaan terhadap orang asing masih eksis dan bahkan memenangkan salah satu tahap pemilihan pada Pemilu Presiden Perancis pada tahun 2004. Partai ini seringkali dikategorisasikan berhaluan rasis karena memiliki potensi rejeksi terhadap keberadaan orang-orang asing di Perancis. Seperti telah dijelaskan di atas, gelombang besar imigrasi orang-orang benua lain ke Eropa menjadi permasalahan tersendiri di Perancis. Pandangan ini berpengaruh terhadap hubungan Perancis dengan negara asal orang-orang tersebut yang dalam konteks Perancis sebagian besar berada di wilayah Francophone. Wacana ini berkembang dan menjadi kontroversi di antara orang-orang Perancis sendiri yang kemudian memecah mereka ke dalam kotak-kotak ideologi yang berbeda. Polemik yang panjang ini juga membawa dampak secara psikologis maupun kultural dan sosial bagi para imigran maupun keturunannya. Peristiwa pembakaran besar-besaran pada tahun 2007 ketika saat itu terjadi amuk massa besar-besaran di Perancis yang disinyalir dimotori para imigran dan keturunannya merupakan klimaks tuntutan anti rasisme terhadap mereka. Peristiwa pembakaran mobil di atas pun merupakan signal yang menunjukkan masih adanya tensi antara in group yang terinklusi serta berfungsi sebagai sentral, yakni warga Perancis (asli) dan out group yang tereksklusi atau sebagai periferi yakni para imigran. Selain itu, inklusivitas dan eksklusivitas serta sentral dan periferi itu pun berlaku juga bagi konteks yang lebih luas, yakni Perancis dan orang-orang atau negara-negara lain sumber imigrasi tersebut, terutama Afrika dan Magreb yang merupakan asal imigrasi terbesar Perancis. Dampak psikologis yang besar terhadap negera-negara tersebutlah yang kemudian ingin dikoreksi oleh Perancis dengan kebijakan-kebijakan politiknya. Berbagai usaha dilakukan untuk memperkenalkan image baru tersebut antara lain dengan memberikan perhatian pada masalah integrasi antara orang Perancis yang dianggap asli dan para pendatang sudah banyak dilakukan, antara lain oleh Kementrian Luar Negri Perancis.

Kesimpulannya,negara Perancis memiliki banyak imigran karena terkait dengan peristiwa sejarahnya. Dimana pada saat itu setelah masa kolonialisme terjadi persoalan nasionalisme dan menjadi gerakan yang mewabah di berbagai belahan dunia yang disebutkan oleh Ben Anderson sebagai immagined community (1983). Seakan-akan secara serentak negara-negara tersebut memproklamirkan kemerdekaan. Agar Perancis dianggap menjadi negara yang berjaya pada masanya. Meskipun muncul penolakan dari warga penduduk asli Perancis. Namun ada pendapat yang dikemukakan oleh Direktur CultureFrance .

Menurut Olivier Poivre d’Arvor. :

’Je suis convaincu que la France a besoin de l’Afrique, des cultures africaines, pour féconder ses pensées, son imaginaire, comme cela s’est déjà passé au début du XX siècle avec le mouvement cubiste. C’est pourquoi, au cours des dernières années, l’Afaa a pris une part grandissante dans l’organisation des manifestations culturelles africaines. Nous avons soutenu la récente exposition « Africa Remix » (2005) à Beaubourg.‘’

‘’Saya yakin bahwa Prancis membutuhkan Afrika, budaya Afrika untuk menyuburkan pikiran dan imajinasinya, seperti yang telah terjadi pada awal abad ke-20 dengan gerakan cubiste. Itulah mengapa, tahun-tahun belakangan ini, l’Afaa mengambil peran yang besar dalam organisasi Critical Discourse.’’

Hal ini menunjukan bahwa peranan warga imigran luar memiliki dampak positif bagi bangsa Perancis itu sendiri karena dapat menyuburkan pikiran dan imajinasi orang Perancis. Serta dapat memperkaya kebudayaan negara itu sendiri. Meskipun didalamnya terjadi polemik antar warga Perancis asli dengan warga imigran .

Kesimpulannya,bahwa kedatangan para imigran terjadi karena latar belakang sejarah Perancis itu sendiri. Peristiwa itu terjadi karena turunnya tahta seorang raja bernama Louis XVII,yang pada saat itu Perancis menganut sistem pemerintahan monarki absolut. Pada saat penurunan tahta itu Perancis mengalami kekosongan pemerintahan. Selain itu perancis juga mendapat suatu kerugian yang besar karena Perancis kehilangan banyak warga negaranya setelah terjadi suatu pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat perancis sendiri sebagai simbol dari penolakan atas kebijakan yang ada. Sehingga pada saat Perancis akan menata kembali suatu pemerintahan,dibutuhkan warga negara yang dapat membantu Perancis bangkit dari keterpurukan,dan warga negara tersebut datang dari berbagai negara yang termasuk negara francophone. Meskipun dengan kebijakan tersebut menghasilkan pro-kontra bagi warga negara Perancis. Seperti munculnya masalah rasisme yang hingga saat ini masalah tersebut menjadi perbincangan yang belum bisa terselesaikan.

REFERENSI

Wening Undasworo.2009.”Politik pluralis Perancis” [online].Tersedia http:/www.weningw@yahoo.com. [15 september 2009]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: