Sistem Pelayanan Kesehatan di Perancis

Sistem Pelayanan Kesehatan di Perancis

Putri Rahayu Pertiwi (0906541)

Pend. Bahasa Perancis 2009

Sistem pelayanan kesehatan yang lengkap dengan akses yang mudah merupakan salah satu persyaratan tak tertulis bagi sebuah negara maju, dan pemberian asuransi kesehatan (askes) juga merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan yang baik dan modern. Dan negara-negara berkembang banyak mencontoh baik seluruh maupun hanya sebagian dari sistem pelayanan kesehatan disuatu negara maju. Misalnya, di negara dunia ketiga seperti republik kita Indonesia, telah memiliki pelbagai infrastruktur pelayanan kesehatan yang tergolong modern untuk sebuah negara berkembang. Rumah sakit yang bagus banyak tersebar dipenjuru kota. Pelayanan kesehatan berupa akses dan obat-obat generik tak lupa diberikan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang baik. Namun sayangnya hanya mereka yang memiliki akses saja yang bisa menggunakannya.

Bicara tentang pelayanan kesehatan, Indonesia bisa dikatakan mengikuti banyak kebijakan-kebijakan yang dianut oleh sesama negara demokrasi lainnya. Katakanlah Amerika Serikat, negara maju  dengan sistem pelayanan kesehatan mutakhir yang memiliki banyak sekali persamaan dalam penerapan kebijakan pelayanan kesehatannya. Misalnya saja, tidak ada pelayanan kesehatan yang gratis, akses hanya bisa diberikan kepada mereka yang terdaftar, masalah administrasi harus diselesaikan sebelum pasien bisa berobat (kecuali gawat darurat), penggelembungan harga obat (baik yang generik maupun yang non-generik), kebijakan pemindahan perawatan bagi pasien yang tidak mampu membayar pengobatan, dan berbagai kebijakan lainnya yang ternyata tidak berpihak kepada kebanyakan masyarakat Indonesia yang tergolong tidak mampu (atau kurang mampu).

Anehnya, sebagai sesama negara penganut demokrasi liberal, Perancis sangat bertolak belakang dengan Amerika. Disana pelayanan kesehatannya sangatlah murah bahkan bila pasien hanya ingin berkonsultasi dengan dokternya mengenai penyakit apa yang mungkin menimpanya, mereka tidaklah dipungut biaya sama sekali. Ada pula kebijakan pelayanan kesehatan selama 24 jam yang memungkinkan seseorang memesan obat dari suatu resep ke rumah sakit lalu pihak rumah sakit langsung mengirimkan dokternya beserta perawat dan dua orang petugas rumah sakit untuk mengantarkan pesanan. Mereka memiliki standar operasional prosedur tentang waktu pengantaran berbanding dengan jarak pengiriman, sehingga orang yang memesan tidak perlu menunggu lama, hebatnya lagi, harga yang harus dibayarkan hanya untuk pembelian obatnya saja! Tidak ada biaya lain yang dikenakan oleh pihak rumah sakit!

Di Perancis, Anda dilindungi, titik. Itu tidak tergantung pada pekerjaan, tidak tergantung pada organisasi pemeliharaan kesehatan, dan hal itu tidak tergantung pada apakah Anda mengisi formulir dengan benar. Di bawah peraturan baru (prosedur konsultasi yang dikoordinasikan [dalam bahasa Prancis, parcours de soins coordonné]) Dokter umum ( “médecin généraliste” atau “Docteur”) lebih diharapkan untuk bertindak sebagai “penjaga pintu gerbang” yang merujuk pasien ke dokter spesialis atau rumah sakit.

Dalam hal ini, Indonesia sebagai negara berkembang yang besar seharusnya bisa melihat bahwa Amerika bukanlah contoh yang baik bagi pelayanan kesehatan karena sangat banyak kasus-kasus kriminal dalam bidang kesehatan yang menyangkut dengan hak seorang warga negara untuk tetap sehat dan mendapatkan pelayanan kesehatan mereka. Menurut saya ini tidak manusiawi, banyak sekali relawan-relawan peristiwa 9/11 yang sakit dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah Amerika sendiri. Mereka bahkan ada yang ditahan karena dicuriugai menipu pemerintah dan mengambil keuntungan dari pelayanan kesehatan gratis, padahal mereka jelas-jelas terdaftar pada satuan relawan dan palang merah swadaya yang izinnya diberikan langsung oleh Presiden tepat dua hari paska 9/11. Mereka yang tidak menerima perlakuan ini, bersama Michael Moore, menyadari bahwa sistem pelayanan kesehatan di Amerika (dan negara lain seperti Indonesia) memiliki tendensi pada modal dan ekonomi. Sistem kesehatan telah menjadi instrumen ekonomis untuk ikut menentukan pendapatan per-kapita sehingga tendensi utama suatu rumah sakit adalah meningkatkan keuntungan yang diperoleh dan bukan menyembuhkan orang sakit atau membantu mereka yang membutuhkannya.

Angka kematian bayi di Perancis adalah 3,9 per 1.000 kelahiran hidup, dibandingkan dengan 7 di AS, dan rata-rata harapan hidup 79,4 tahun, dua tahun lebih daripada di Amerika. Negara ini jauh lebih banyak tempat tidur rumah sakit dan dokter per kapita dibanding Amerika, dan jauh lebih rendah tingkat kematian akibat diabetes dan penyakit jantung. Baru-baru ini dalam peringkat pelayanan kesehatan di WHO, Perancis diurutan pertama, sementara Amerika mencetak gol 37, sedikit lebih baik daripada Kuba dan satu tingkat di atas Slovenia.

Dibagian pelayanan kesehatan ibu dan anak, pemerintah Perancis menyediakan tenaga asisten rumah-tangga secara cuma-cuma bagi ibu-ibu yang bekerja diinstansi pemerintah, ibu-ibu yang suaminya bekerja pada pemerintah dan mereka yang tercatat sebagai warga, negara yang baru saja melahirkan bayi dimana tidak ada orang untuk merawat sang bayi pada waktu tertentu. Jadi bagi mereka yang baru saja melahirkan dapat merasa tenang meninggalkan rumah untuk bekerja. Lagipula, bila sang ibu adalah pegawai pemerintah maka ada pemotongan jam kerja sekitar sepertiga dari jam seharusnya tanpa pemotongan gaji atau upah. Ini sangatlah manusiawi mengingat peran ibu dalam lingkup keluarga dan pekerjaannya yang tidak bisa mereka tinggalkan. Karena itu kebijakan pemerintah Perancis dinilai sangat melindungi warga negaranya.

Sedangkan Indonesia, dengan rumah sakitnya yang besar (yang hanya terpusat dikota saja) dan kemegahan serta kemewahan gaya hidup dokternya, ternyata sama saja dengan Amerika yang keuntungan finansialnya melandasi pelayanan kesehatan mereka. Contohnya, seorang nelayan Tegal yang tidak memiliki biaya berobat terpaksa gantung diri karena saat Puskesmas desa merujuknya kerumah sakit kota, ternyata rumah sakit yang dituju malah menolak dan mengirimkannya kembali ke Puskesmas asal hanya karena alasan sepele, tidak memilki akses dan kekurangan biaya administrasi!

Menurut saya tindakan ini konyol sekali mengingat hidup manusia terjadi diatas tanah bukan diatas kertas! Di Perancis (negara maju) dan Kuba (negara berkembang, sama seperti kita), pasien hanya ditanyai nama dan tanggal lahir sebelum mereka mendapat nomor antrian, bahkan di Kuba, bila pasien tidak memiliki biaya transportasi untuk pulang kerumah maka pihak rumah sakit akan menyediakan uang atau mengantarkannya bila ada kendaraan dan petugas yang sedang ‘nganggur’.

Seharusnya pemerintah kita mengubah atau bahkan merombak sistem pelayanan kesehatan Indonesia yang berpihak pada mereka yang ‘berduit’ ini. Kita bisa meneladani banyak hal dari Kuba, sesama negara berkembang yang pelayanan kesehatannya terlengkap di dunia, agar dapat seperti atau bahkan melampaui Perancis, negara maju dengan sistem pelayanan yang sangatlah manusiawi dan merakyat. Karena menjadi sehat adalah hak setiap manusia, setiap warga negara. Maka pemerintah sebagai orang yang telah kita percayai seharusnya bisa melindungi kita dengan kebijakan pelayanan kesehatan yang merakyat dan murah, dimana pemberian akses yang mudah lumrah, dimana kemudahan mengakses pelayanan kesehatan seharusnya berlandaskan kemanusiaan yang adil dan beradab bukannya keuntungan, dimana pemerintah seharusnya memberikan kesempatan yang sama kepada setiap warga negara yang membutuhkan pelayanan kesehatan sebagai salah satu perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengingat ideologi Indonesia yaitu Pancasila, yang sangatlah kerakyatan dan merakyat. Keniscayaan pemerintah kita seharusnya dipertanyakan, sudahkah mereka menerapkan ideologi Pancasila dalam mengambil setiap kebijakan yang menyangkut kehidupan rakyat?

REFERENSI

1. Michael,M.2007.”Sicko”.(film dokumenter)

2. Matt,W.2010.”Why I Prefer French Health Care”. (online)

Tersedia: http://reason.com/archives/2009/12/07/why-prefer-french-health-care

3. Kerry,C.2007.”The French Lesson In Health Care”.(online)

Tersedia: http://www.businessweek.com/magazine/content/07_28/b4042070.htm

2 Responses to “Sistem Pelayanan Kesehatan di Perancis”

  1. lita Says:

    iya saya sangat setuju dengan pelayanan kesehatan di prancis,,,,sangat sangat memiliki hati nurani,,,,,,,,
    saya kuliah di universitas jendral soedirman jurusan kedokteran,,,,dan saya telah melihat film dokumenter tsb,,,,,,,,,,
    di lhat2 memang amerika sangat tidak memiliki pelayanan yang universal,,,sampai2 warga amerika pergi ke cuba untuk berobat dengan murah,,,,,,,,,
    saya sangat jengkel melihat film dokumenterr tsb,,,,,,,,,sampai2 seorang pasien di bunag tanpa tujuan yang jelas oleh pihak rumah sakit di karenakan tidak bs membayar tagihan adminisrasi,,,,,,,,,

    saya harap indonesia berkaca dr prancis yang mementingkan kesejahteraan warga,,,,buka keuntungan pribadi mansing2,,,,,,amien,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: